Assalamualiakum.,
Mabrur, itulah harapan setiap calon jema’ah haji yang hendak berangkat ke Tanah Suci. Mudah terucap tapi sulit didapat. Harapan itu pula yang selalu tersemat di dada para calon jama’ah tiap kali mereka memohon do'a kepada yang ditinggal saat akan berangkat ke sana.
Mabrur, itulah harapan setiap calon jema’ah haji yang hendak berangkat ke Tanah Suci. Mudah terucap tapi sulit didapat. Harapan itu pula yang selalu tersemat di dada para calon jama’ah tiap kali mereka memohon do'a kepada yang ditinggal saat akan berangkat ke sana.
Tapi siapa sangka, dari 600.000 jiwa yang berangkat ke tanah suci
hanya 6 orang yang meraih haji mabrur. Begitulah riwayat yang tertera
dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Bahkan siapa sangka
pula, ada yang meraih haji mabrur padahal yang bersangkutan sama sekali
tidak kesana, gagal berangkat lantaran menyerahkan ongkos hajinya untuk
memberi makan orang miskin. Sebagaimana kisah Abdullah Ibn al-Mubarak
dalam riwayat yang lain.
Cerita atau kisah itu entah kapan kejadiannya. Tapi terlepas benar
tidaknya kisah tersebut, Rasul SAW pernah menyatakan bahwa tekad dan
niat dapat menjadi sebab diraihnya kebaikan yang sempurna, meskipun
perbuatan itu sendiri belum dilakukan: “Maka siapa saja yang bertekad
untuk melakukan kebaikan sementara ia belum sempat untuk mewujudkannya
Allah SWT telah menuliskannya sebagai sebuah kebajikan yang sempurna
(sama seperti telah melaksanakannya)”.
Dalam arti yang kedua, mabrur berarti maqbul atau diterima. Haji
mabrur berarti telah melakukan tata cara ibadah atau manasik haji sesuai
dengan petunjuk Allah Swt dan Sunnah Rasulullah SAW, memperhatikan
berbagai syarat dan rukunnya serta hal-hal yang wajib diperhatikan dalam
berhaji.

Dari kedua pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang
dimaksud haji mabrur adalah haji yang diterima dan diridhoi oleh Allah
SWT karena ibadah hajinya telah dilakukan dengan baik dan benar serta
dengan bekal yang halal, suci dan bersih.
Tetapi sulit untuk menyebut setiap orang yang kembali dari
melaksanakan ibadah haji telah meraih haji mabrur. Sebab predikat haji
mabrur seperti halnya pahala, hanya Allah SWT yang tahu. Tak ada
sertifikat tertulis yang dapat ditunjukkan sebagai bukti keberhasilan
meraih “haji mabrur” seperti secarik kertas ijazah pada lembaga-lembaga
pendidikan.
Begitupun mabrur bukan tidak dapat diukur. Informasi dari
sumber-sumber agama Islam telah menyebut beberapa indikator kemabruran
ibadah haji. Dalam sebuah hadisnya yang terkenal, yang diriwayatkan oleh
Imam Ahmad dan Thabrani Rasulullah SAW bersabda :
“dari Jabir ra, dari Nabi Muhammad SAW berkata, “Haji yang mabrur tiada balasannya kecuali Surga”. Lalu beliau ditanya, “apa tanda kemabrurannya ya Rasul?” Rasul SAW bersabda, “memberi makan orang yang kelaparan, dan tutur kata yang santun”. (HR. Ahmad dan Thabraniy, dan lainnya).
“dari Jabir ra, dari Nabi Muhammad SAW berkata, “Haji yang mabrur tiada balasannya kecuali Surga”. Lalu beliau ditanya, “apa tanda kemabrurannya ya Rasul?” Rasul SAW bersabda, “memberi makan orang yang kelaparan, dan tutur kata yang santun”. (HR. Ahmad dan Thabraniy, dan lainnya).
Imam Nawawi dalam kitabnya “al-Idhah fi Manasik al-hajj wal Umrah” menegaskan:
Haji yang mabrur adalah yang mengantarkan pelakunya kepada perubahan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya (terutama peningkatan ibadah).
Haji yang mabrur adalah yang mengantarkan pelakunya kepada perubahan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya (terutama peningkatan ibadah).
Indikator pertama kemabruran ibadah haji yang dilakukan adalah
tumbuhnya kepedulian sosial yang tinggi, yang dalam hadis di atas
terungkap dalam kalimat “memberi makan orang yang kelaparan”. Frasa
“memberi makan orang yang kelaparan” ini dapat dipahami dalam artian
yang luas dalam bentuk memberikan berbagai bantuan sosial. Bisa berarti
memberikan bantuan pendidikan kepada anak-anak yang putus sekolah; rajin
bersedekah kepada para fakir miskin; suka bergotong royong untuk
kemaslahatan bersama. Orang-orang yang kembali dari tanah suci dan
meraih haji yang mabrur akan menjadi pribadi-pribadi dermawan. Lebih
mendahulukan kepentingan umum ketimbang kepentingan dirinya sendiri.
Bahkan pada tingkatnya yang paling sempurna adalah rela memberikan
bantuan kepada orang lain, padahal dirinya juga membutuhkan sesuatu yang
diberikan itu.
Indikator yang kedua adalah tutur kata yang santun. Tutur kata yang
baik menjadi syarat terjalinnya hubungan yang harmonis di tengah
masyarakat. Sebab seringkali perselisihan dipicu oleh kata-kata yang tak
patut terucap dan menyakiti orang lain. Karena itu, mereka yang meraih
haji mabrur tampak pada tutur katanya yang santun. Berusaha menjaga
perasaan orang lain.Tidak ingin menang sendiri dalam tiap pembicaraan.
Atau dalam ungkapan yang lebih tegas dapat dinyatakan bahwa para peraih
haji mabrur adalah pribadi-peribadi yang berakhlak mulia.
Indikator ketiga adalah adanya peningkatan gairah beribadah
sekembalinya dari tanah suci. Mereka yang meraih haji mabrur akan
semakin rajin ke masjid untuk sholat berjama’ah ataupun menghadiri
berbagai kegiatan keagamaan. Sebab selama mereka di tanah suci telah
melatih dirinya untuk terus menurus sholat berjama’ah di masjid. Bahkan
datang lebih awal dari jadwal waktu sholat berjama’ah. Sampai-sampai
rela berlari-larian dan berdesak-desakan untuk meraih tempat yang utama
di dalam masjid seperti di Raudhah.
Sayangnya, sejauh yang teramati dari para jama’ah yang sedang
melaksanakan ibadah haji di tanah suci, tak sedikit dari mereka yang
bersikap tidak sepatutnya dalam pelaksanaan ibadah haji. Memonopoli
tempat sholat di Raudhah dan keengganan memberikan tempat kepada jama’ah
lain yang antri berdiri, yang juga ingin merasakan sholat dan munajat
di tempat itu. Ataupun berdesak-desakan dan saling sikut hingga melukai
orang lain sewaktu akan mencium Hajar al-Aswad. Seolah mereka gagal
menangkap pesan intrinsik dalam rangkaian ritual ibadah haji, untuk
tidak bertengkar, berkata-kata yang tak layak, dan untuk tidak menyakiti
orang lain sebagaimana yang tercermin dalam larangan-larangan saat
mereka berihram.
Pun sekembalinya ke tanah air, masih banyak masjid yang sepi dari
sholat berjama’ah, khususnya di waktu shubuh. Padahal, sewaktu di tanah
suci para jama’ah seolah-olah menjadi orang yang paling merugi manakala
tertinggal sholat berjama’ah, khusunya saat melewatkan berjama’ah
sebanyak 40 waktu di Masjid Nabawi. Bahkan mereka sanggup datang lebih
awal dan berdiri dengan sabar menunggu pintu Masjid Nabawi terbuka pukul
03.00 pagi.
Cukup besarnya ketimpangan sosial di tengah-tengah masyarakat juga jadi indikasi lain betapa haji yang mereka lakukan tak cukup berpengaruh pada perubahan sikap mereka dalam merespon pendiritaan kaum dhu’afa (fakir dan miskin). Semestinya, ratusan ribu jama’ah Indonesia yang kembali dari tanah suci menjadi suatu kekuatan perubahan sosial yang cukup signifikan. Seperti halnya dulu, para jama’ah haji berhasil menjadi kekuatan perubahan sosial yang penting dalam mendorong lahirnya perjuangan kemerdekaan di tanah air ini.
Selama ini, pelajaran manasik haji yang diberikan memang terlalu
menitik-beratkan pada tata cara penyelenggaraan ritual haji. Padahal
perkara ubudiyah ini pada prakteknya di lapangan akan mudah. Mengingat
semua orang di tanah suci akan melakukan pola-pola ibadah yang sama.
Thawaf 7 (tujuh) kali mengitari ka’bah, berlari-lari kecil dari bukit Shafa
menuju Marwa, wukuf di Arafah, melontar jumrah di Mina, serta
menggunting rambut atau tahallul, kesemuanya adalah rangkaian ibadah
yang akan dilaksanakan secara serentak oleh seluruh jama’ah dari segala
penjuru dunia yang ada di tempat itu. Tak akan ada kekeliruan selama
jama’ah mau mengikuti arahan yang ada. Adapun doa-doa dan bacaan tiap
rangkaian ibadah haji bukanlah suatu kemutlakan yang tak dapat diganti
dengan sebait doa atau zikir yang lain.
Ternyata meraih haji mabrur itu tidak hanya tergantung dalam
rangkaian ritual ibadahnya. Tetapi yang jauh lebih penting adalah
penghayatan dari pelaksanaan ibadah itu sendiri yang dapat melahirkan
perubahan perilaku dalam kehidupan sehari-hari sekembalinya dari tanah
suci. Kemabruran diukur bukan saja sejauh mana kita makin saleh secara
individual tetapi yang terpenting saleh secara sosial.
Mungkin kita
perlu mempertimbangkan sindiran Ibn Athaillah al-Sakandary, seorang
ulama sufi yang cukup populer dengan karyanya al-Hikam, agar jangan
sampai kita terjebak dalam ibadah yang dilandasi hawa nafsu. Seperti apa
itu? Ternyata keinginan kita berkali-kali ke tanah suci, sementara
masih ada tetangga yang berada dalam kesulitan ekonomi adalah pertanda
ibadah yang masih dilandasi hawa nafsu.
Wallahu a’lam bi al-Shawaab...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar