Minggu

12 Barisan di Padang Mahsyar

Seluruh umat manusia, pada hari kebangkitan ini seluruh manusia akan dibangkitkan dalam 3 kelompok, yaitu:
  1. Kelompok yang berkendaraan,
  2. Kelompok yang berjalan kaki,
  3. Kelompok yang berjalan dengan wajahnya.
Ada salah seorang sahabat yang menanyakan, bagaimana bisa sekelompok tersebut berjalan dengan wajahnya, kemudian Rasulullah SAW menjawab, "Allah SWT yang menjadikan mereka berjalan dengan kaki, pasti mampu membuat mereka berjalan dengan wajah."

Ada 12 kelompok umat Islam...


Suatu ketika, Muadz bin Jabal menghadap Rasulullah SAW dan bertanya: "Wahai Rasulullah, tolong uraikan kepadaku mengenai firman Allah: "Pada saat sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris-baris." (QS. An-Naba': 18)


Mendengar pertanyaan itu, baginda menangis dan basah pakaian dengan air mata. Lalu menjawab: "Wahai Muadz, engkau telah bertanya kepadaku, perkara yang amat besar, bahwa umatku akan digiring, dikumpulkan berbaris-baris."


Maka dinyatakan apakah 12 barisan tersebut...


Barisan Pertama


Mereka digiring dari kubur dengan tidak bertangan dan berkaki. Keadaan mereka ini dijelaskan melalui satu seruan dari sisi Allah Yang Maha Pengasih: "Mereka itu adalah orang-orang yang sewaktu hidupnya menyakiti hati tetangganya, maka demikianlah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."


Jumat

Banyak berdo'a atau banyak berdzikir.?

Assalamualaikum Wr Wb..

Suatu ketika ada seorang teman saya bertanya : ‘’Apakah didalam Al Qur’an ada perintah untuk berdoa sebanyak-banyaknya.?’’
Jawabnya : ‘’tidak ada”. Yang ada ialah perintah untuk BERDZIKIR sebanyak-banyaknya.’’ 

Ternyata, teman saya tadi sedang galau tentang banyaknya orang yang sangat suka berdo'a, tetapi kurang berusaha. Sehingga, terasa kurang menghargai karunia Allah SWT yang telah diberikan kepada kita untuk bekerja keras dalam menggapai tujuan.

Memang ada sih, perintah Allah untuk kita berdoa, tetapi tidak sebanyak perintah Allah agar kita banyak-banyak berdzikir.

Kita memang tidak menemukan perintah untuk berdo'a sebanyak-banyaknya. Bahkan para Nabi dan Rasul beserta para pengikutnya yang sedang berjuang menegakkan agama Allah pun ketika sedang menghadapi masalah tidak diperintahkan untuk berdoa, melainkan disuruh banyak-banyak berdzikir. "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan berdzikirlah menyebut (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu memperoleh kemenangan." [QS. Al Anfaal (8): 45.

Haji Mabrur atau Haji Mabur

Assalamualiakum.,
Mabrur, itulah harapan setiap calon jema’ah haji yang hendak berangkat ke Tanah Suci. Mudah terucap tapi sulit didapat. Harapan itu pula yang selalu tersemat di dada para calon jama’ah tiap kali mereka memohon do'a kepada yang ditinggal saat akan berangkat ke sana.
 
Tapi siapa sangka, dari 600.000 jiwa yang berangkat ke tanah suci hanya 6 orang yang meraih haji mabrur. Begitulah riwayat yang tertera dalam buku Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali. Bahkan siapa sangka pula, ada yang meraih haji mabrur padahal yang bersangkutan sama sekali tidak kesana, gagal berangkat lantaran menyerahkan ongkos hajinya untuk memberi makan orang miskin. Sebagaimana kisah Abdullah Ibn al-Mubarak dalam riwayat yang lain.

Cerita atau kisah itu entah kapan kejadiannya. Tapi terlepas benar tidaknya kisah tersebut, Rasul SAW pernah menyatakan bahwa tekad dan niat dapat menjadi sebab diraihnya kebaikan yang sempurna, meskipun perbuatan itu sendiri belum dilakukan: “Maka siapa saja yang bertekad untuk melakukan kebaikan sementara ia belum sempat untuk mewujudkannya Allah SWT telah menuliskannya sebagai sebuah kebajikan yang sempurna (sama seperti telah melaksanakannya)”.

Kamis

Raja tak Bermahkota


Habib Hasan bin Idrus Al-Habsyi pada masa hidupnya terkenal sebagai "Pasak" Banjar. Ia hidup sezaman dengan tokoh berpengaruh lainnya, mufti ternama Kalimantan, Surgi Besar H Jamaluddin, sekitar abad ke 19.

Pihak keluarga tidak memiliki catatan tahun kelahiran Habib Hasan. Dari informasi orang-orang tua, yang diketahui pasti adalah Habib Hasan kelahiran Sambas. Sang ayah, Sayyid Idrus bin Hasan Al-Habsyi, diperkirakan datang ke Banjarmasin tahun-tahun terakhir menjelang runtuhnya Kesultanan Banjar.

Pada tahun 1855, pada susunan pemerintahan di Banjarmasin saat jabatan residen dipegang oleh A Van der Ven dan kekuasaan mangkubumi ditangan Pangeran Tamjidillah, tak tertera nama Sayyid Idrus. Wakil tokoh orang Arab yang tercatat ikut dalam elite pemerintahan hanya Pangeran Syarif Husien bin Muhammad Baharun, sebagai salah satu anggota pengadilan perdata dan pidana.

Nama Sayyid Idrus baru muncul pada tahun 1860-an, ketika kerajaan Banjar di hapus secara sepihak oleh Belanda. Ketika terjadinya perang Banjar, Sayyid Idrus diakui sebagai Hoofd der Arabieren (kepala orang Arab).

Keluarga Habib Idrus tinggal di Ujung Murung. Ujung Murung adalah perkampungan Arab di zaman penjajahan. Didepan rumah mereka mengalir sungai Martapura, yang tersambung dengan sungai Barito. Beberapa meter dari kediaman beliau berdiri sebuah surau kecil yang diberi nama "Langgar (Mushola) Noor". Langgar Noor binaan keluarga Sayyid Idrus dan dilanjutkan oleh Habib Hasan.

Rabu

Dahsyatnya sakit saat sakaratul maut.

Demi Allah, seandainya jenazah yang sedang kalian tangisi bisa berbicara sekejab, lalu menceritakan (pengalaman sakaratul mautnya) pada kalian, niscaya kalian akan melupakan jenazah tersebut, dan mulai menangisi diri kalian sendiri. (Imam Ghozali mengutip atsar Al-Hasan).

Sabda Rasulullah SAW : “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukkan 300 (tiga ratus) pedang” (HR. Tirmidzi)

Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)

Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW .
Ka’b al-Ahbar berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.

Senin

Syech Muhammad Abdul Malik bin Muhammad Ilyas

Semasa hidupnya Syech Abdul Malik memimpin 2 (dua) thariqah besar (sebagai mursyid) yaitu: Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah dan Thariqah Asy-Syadziliyah. Sanad Thariqah An-Naqsabandiyah Al-Khalidiyah telah ia peroleh secara langsung dari ayah beliau yakni Syaikh KH Muhammad Ilyas, sedangkan sanad Thariqah Asy-Sadziliyah diperolehnya dari As-Sayyid Ahmad An-Nahrawi Al-Makki (Makkah).

Syaikh Abdul Malik mengamalkan dua amalan wirid utama, yaitu membaca Al-Qur’an dan Shalawat. Beliau membaca shalawat sebanyak 16.000 kali dalam setiap harinya dan menghatamkan Al-Qur’an setiap hari. Shalawat yang diamalkan adalah shalawat Nabi Khidir AS atau lebih sering disebut shalawat rahmat, yakni “Shallallah ‘ala Muhammad.” Dan itu adalah shalawat yang sering beliau ijazahkan kepada para tamu dan murid beliau. Adapun shalawat-shalawat yang lain, seperti shalawat Al-Fatih, Al-Anwar dan lain-lain.

Beliau juga dikenal sebagai ulama yang mempunyai kepribadian yang sabar, zuhud, tawadhu dan sifat-sifat kemuliaan yang menunjukan ketinggian dari akhlaq yang melekat pada diri beliau. Sehingga amat wajarlah bila masyarakat Karesidenan Banyumas dan sekitarnya sangat mencintai dan menghormatinya.

Beliau disamping dikenal memiliki hubungan yang baik dengan para ulama besar umumnya, Syaikh Abdul Malik mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ulama dan habaib yang dianggap oleh banyak orang telah mencapai derajat waliyullah, seperti Habib Soleh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul, Jember), Habib Ahmad Bilfaqih (Yogyakarta), Habib Husein bin Hadi Al-Hamid (Brani, Probolinggo), KH Hasan Mangli (Magelang), Habib Hamid bin Yahya (Sokaraja, Banyumas) dan lain-lain.

Selasa

Keutamaan Bulan Sya'ban

Sya’ban adalah salah satu bulan yang mulia. Bulan ini adalah pintu menuju bulan Ramadhan. Siapa yang berupaya membiasakan diri bersungguh-sungguh dalam beribadah di bulan ini, ia akan akan menuai kesuksesan di bulan Ramadhan.
 
Dinamakan Sya’ban, karena pada bulan itu terpancar bercabang-cabang kebaikan yang banyak (yatasya’abu minhu khairun katsir). Menurut pendapat lain, Sya’ban berasal dari kata Syi’b, yaitu jalan di sebuah gunung atau jalan kebaikan. Dalam bulan ini terdapat banyak kejadian dan peristiwa yang patut memperoleh perhatian dari kalangan kaum muslimin.
 
1). PINDAH QIBLAT
Pada bulan Sya’ban, Qiblat berpindah dari Baitul Maqdis, Palistina ke Ka’bah, Mekah al Mukarromah. Nabi Muhammad SAW menanti-nanti datangnya peristiwa ini dengan harapan yang sangat tinggi. Setiap hari Beliau tidak lupa menengadahkan wajahnya ke langit, menanti datangnya wahyu dari Rabbnya. Sampai akhirnya Allah SWT mengabulkan penantiannya. Wahyu Allah SWT turun. “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya.” (QS. Al Baqarah; 144)